Seorang teman menulis di status, nge-screenshot percakapan dengan salah seorang bakal murid yang bertanya, apakah hasil kursus boleh dibawa pulang peserta.

Believe me or not, aku pernah mendapat pertanyaan sama.

Tentu saja boleh, bahkan wajib, kataku. Biar bisa pamer ke suami, anak, ibu, teman, ini lho hasil aku seharian ngejongkrok di rumah Bu Indarwati Ayaran. Pamer tersebut ke depan diharapkan bisa mendatangkan pesanan. Jadi investasi kursus offlinenya bisa kembali bahkan membawa untung.

Lalu bagaimana kalau kursus online? Nah, yang ini  bisa lebih luas pembahasannya.

Secara garis besar, ditinjau dari segi bahan, kursus online, atau kita singkat saja WSO, bisa dibagi menjadi dua: ketrampilan fisik n ketrampilan non fisik atau digital.

Ketrampilan fisik yang aku maksud disini misal bag making, menjahit baju, atau memasak. Sedangkan ketrampilan non fisik atau digital disini misal WSO fotografi yang sedang seksi n banyak diikuti emak2 milenial akhir-akhir ini– include me. Atau WSO Video editing seperti aku buka kelasnya akhir-akhir ini.

Ketrampilan fisik, lebih tangible atau measureable dibanding non fisik dan membuka celah bisnis buat mentor atau teman sekelas untuk menjual alat dan bahan yang diperlukan. Dan karena dia berbentuk, bisa diraba teksturnya atau basi jika nggak segera diolah, ada semacam urge atau dorongan untuk mengaplikasikan ilmu dari WSO tersebut. Tapi bagaimana dengan WSO misal fotografi atau videografi? Bagaimana guru bisa mereview hasil jika murid tidak menyetorkan karyanya yang tidak bakal bisa basi?

Butuh komitmen lebih untuk jadi murid WSO seperti ini. Guru pun harus memahami kenapa murid tidak menyetor. Meski mungkin ini bikin dia sedih, tapi prioritas orang memang beda2. Lebih dari soal skala prioritas dan menejemen waktu, yang paling mendasar utamanya adalah motif yang bernama CINTA. Seseorang jika sudah cinta pada sesuatu akan menempatkan sesuatu yang dicintainya pada prioritas utama. Dan cinta atau klik–at least–ini butuh waktu juga. Tidak bisa sepekan atau sebulan, apalagi hanya dalam sehari dua hari.

Kalau tentang cara dan teknis ngajarnya bagaimana Mbak?

Ini tergantung stylemu. Cara ngajar seorang guru, mau minimalis atau detail, mau pakai foto atau video, mau tulisan atau sound recorder, nggak akan pernah bisa memuaskan semua murid yang karakternya beda2. Ada yang visual, kinestetik, atau audio visual.

Sebagai guru dan murid, aku cenderung suka sesuatu yang detail. Makanya aku nggak meneruskan WSO di sebuah penyelenggara karena dia hanya sedikit berkata2, lalu share contoh hasil WSO murid2 sebelumnya sebagai referensi. Semua terasa terburu-buru tanpa detail atau garis besar yang kucari dari sebuah pembelajaran.

Tapi aku lalu meneruskan 3 WSO lainnya, setelah aku puas dengan 1 WSO digital yang kuikuti sebelumnya. Karena gurunya mengajarkan dengan cinta, memberi contoh dengan hasilnya sendiri alih2 ‘pinjam’ hasil muridnya. Dan point2 yang kucari dari tema pun kudapatkan.

Tapi apakah aku setor hasil karya? Nggak juga, nggak sempat. Karena prioritasku adalah ngajar di kelasku sendiri, basic video editing, dan ngejar ngisi konten di  dua channel Youtubeku plus ngisi tulisan di websiteku https://ayaranhandmade.com dan blogku https://ayarantutorial.blogpsot.com. Hehe..

Tapi aku yakin pasti, ilmu dari Pak Guru itu akan kuterapkan pekan2 kedepan. Dan kekurangan dari Mbak Guru itu akan aku hindari jika aku ngajar di kelasku sendiri.

Lalu sebagai murid harus bagaimana Mbak?

Jika kurang jelas, bertanyalah. Sebaiknya di group. Biar peserta yang memiliki masalah serupa tapi malu bertanya mendapat jawabannya. Juga, khawatir kalau wapri akan tertelan chat lainnya. Waktu si guru kan bukan cuma buat membalas chat/inbox wapri.

Jika kamu tidak puas dengan cara ngajar, sampaikan. dengan adab yang baik. Nah, kalau yang ini sebaiknya japri atau inbox pribadi. Jangan mengumbarnya di media sosial. atau main tunjuk dan mencak2 di group. Guru juga manusia, yang pasti ada kekurangan. Tapi dalam hierarki keilmuan, bagaimanapun statusnya di atas murid.

Kalau sudah disampaikan tapi tak ada perubahan? Ya tinggalkan. Sesimple itu.

Kalau WSO yang free mbak? Nah, itu lebih butuh pemahamanmu. Kenapa sih orang itu mau repot2 ngumpulin orang lalu share ilmu dan pengalaman?

Satu hal yang kita harus pahami, nggak semua selalu sebab uang dan materi.

Aku dapat curhatan seorang murid, bahwa ada orang yang suka ngadaian WSO gratis. lalu diminta peserta melihat video di channel youtubenya. Prasangka dia, itu buat naikin views aja.

Kalau seperti itu kasusnya, kalau dirimu nggak mau ya tinggal aja tho. Ngapain harus mengotori hati dengan buruk sangka ke orang?

Kalau orang lain ada yang merasa terbantu n nggak masalah dengan klik videonya, pakai pulsa atau wifi dia, ngapain u repot amat ngurusi? Ye kannn?

Sebagai mentor, aku memahaminya begini. Bahwa nggak semua materi bisa disampaikan langsung di WAG–misal. video yang panjang, atau video teknik basic yang sudah ada dan akan selalu terpakai biasanya aku simpan di tempat yang bisa terjangkau dan aman. Misal di google drive atau youtube. Jadi selain soal penyimpanan, juga aksesibilitas.

Satu hal lagi yang selalu dan selalu terulang di setiap kita. entah itu dalam kegiatan belajar mengajar atau jual beli, minimnya kesadaran untuk membaca atau melihat video tutorial yang sudah diberikan. Lalu buru2 bertanya. Please.. jangan seperti itu ya.. Capek tahu, njawabnya.

Wis ah, ntar kalian capek juga baca tulisanku. Aku sih seneng aja nulisnya. Hahaha.. Well, see you di kelas WSO Free Ayaran Sew n Shop, Temans.

 

salam sayang,

Ayaran Indar Kedua

content creator at bit.ly/ayaranyoutube dan bit.ly/ayaranyoutube2